Hakekat Kehidupan Manusia #Seri 1


QS.Az-Zariyat (51) : 56
"Tidaklah Allah ciptakan jin & manusia kecuali beribadah kepada-Ku"

Hakekat keberadaan manusia di muka bumi adalah perjalanan menuju kampung halaman yaitu surga. Maka Allah berikan rambu agar manusia dapat menjalankan fungsinya dg sebaik-baiknya, yakni :
*1. Sebagai Hamba*
Tujuan asasi Allah ciptakan manusia adalah sebagai "hamba"/mengabdi. Maka seluruh rangkaian hidup kita adalah pengabdian atau berorientasi pd Allah. 
Dalam perspektif manusia, kata "hamba" mengandung makna kehinaan, karena tercerabut dari eksistensi kemuliaan. Maka keberadaan hamba sahaya menjadi hal yg tidak manusiawi
Sedangkan di hadapan Allah, kata "hamba" adalah mulia. Status Rasulullah saat isro miroj adalah sebagai hamba dan dimuliakan oleh penduduk langit. 
Karena yg membedakan kemuliaan seseorang adalah keimanan.
Saat keimanan melekat pd seseorang maka bentuk penghambaan menghantarkan pd kemuliaan.
Namun jika tdk ada keimanan maka seluruh penghambaan pasti kepada selain Allah, dan itu menistakan. Penghambaan kepada : harta, jabatan, kekuasaan dll, yg pada akhirnya muncul tindakan/perilaku yg menghinakan, seperti : menjilat, pencitraan, flexing, dzalim, menghalalkan segala cara, dll)

*2. Wadzifah khalifah*
Tugas penting selanjutnya adalah sebagai khalifah dan menjalankan fungsi 'imaroh (kepemimpinan).
'Imaroh dalam skala terendah adalah kemampuan memanaj potensi diri untuk kemaslahatan.
Sedangkan 'imaroh dalam skala makro adalah membangun peradaban di muka bumi.
Saat ini upaya-upaya untuk mengembalikan manusia pada peradaban jahiliyah semakin menguat. Segala bentuk upaya menjauhkan diri dr Allah swt dikemas dg cara yg sangat menarik dan mudah ditiru, sehingga kerusakan umat menjadi sangat masif dan menyerang semua tahapan usia manusia.
Pada dasarnya kejahiliyahan dari jaman dahulu dan jaman sekarang itu sama, hanya kemasannya yang berbeda. Sementara kemasan kejahiliyahan saat ini disajikan dalam kemasan yg tampak indah dan sangat menggoda.

Maka dibutuhkan generasi yg siap menanggung beban, para rijal yg kuat, yg dapat menata peradaban. Mereka adalah pribadi-pribadi yg lahir dari proses tarbiyah yg istimror (berkelanjutan).

Fungsi khalifah adalah *membawa misi dakwah*.
Prinsip dakwah adalah mengembalikan manusia kepada Allah swt melalui syiar kebaikan dan kemaslahatan kepada manusia.
Karena Allah telah berbuat baik kepada kita dg  rahmat, hidayah, bimbingan, dan karunia-Nya, maka kebaikan ini juga harus mengalir kepada sesama. Sehingga membentuk mata rantai kebaikan yang akan membangun komunitas orang-orang baik yg pada akhirnya membentuk suatu peradaban islami.

QS.Al Qasas (28) : 77
"...Berbuat baiklah kepada manusia sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Allah tidak menyukai orang yg berbuat kerusakan".

Dan sebaik-baik manusia adalah yg berbuat baik kepada orang lain (Khoirunnas li'anfauhum linnas)

Hal ini juga akan menghantarkan kita menjadi orang yg *beruntung (muflihun)* bukan orang yg *muflis (bangkrut).*

Dari Abu Hurairah Rasulullah bersabda: “Tahukah Kalian, siapakah muflis (orang yang bangkrut) itu?” Para sahabat menjawab: “Di kalangan kami, muflis itu adalah seorang yang tidak mempunyai dirham dan harta benda”. 
Nabi bersabda: ‘Muflis di antara umatku itu ialah seseorang yang kelak di Hari Kiamat datang lengkap dengan membawa pahala ibadah shalatnya, ibadah puasanya dan ibadah zakatnya. 
Di samping itu dia juga membawa dosa berupa makian pada orang ini, menuduh yang ini, menumpahkan darah yang ini serta menyiksa yang ini. Lalu diberikanlah pada yang ini sebagian pahala kebaikannya, juga pada yang lain. 
Sewaktu kebaikannya sudah habis padahal dosa belum terselesaikan, maka diambillah dosa-dosa mereka itu semua dan ditimpakan kepada dirinya. Kemudian dia dihempaskan ke dalam neraka. (HR Muslim, Ahmad, dan lain-lain).

Semoga Allah mampukan kita menjalankan peran kita di dunia sesuai kaedah penciptaan manusia oleh Allah swt. 

Wallahu'alam bishawab

Bandar Lampung, 3 Mei 2025
UAZ

Postingan populer dari blog ini

Peran Penting Nabi Ibrahim Dalam Pengasuhan, Menolak 'Fatherless' #Seri 2