Peran Penting Nabi Ibrahim Dalam Pengasuhan, Menolak 'Fatherless' #Seri 2


Bulan Dzul Hijah kembali hadir di tengah kita, mengalirkan berjuta makna kehidupan yang sarat dengan nilai kebajikan. Di dalamnya mengandung momen penting berbagai fragmen kehidupan yang mengajarkan  arti : kecintaan, perjuangan, pengorbanan, keindahan pekerti, yang terpancar dari keimanan yang sangat mendalam. 

Di tengah tugas berat yang harus diemban sebagai utusan Allah, Ibrahim a.s tidak lupa tentang keseluruhan elemen penting yang akan menjaga keberlangsungan aliran kebaikan yang sedang diperjuangkan, yakni berjalannya proses regenerasi. Perhatian beliau sangat besar terhadap kualitas generasi yang memiliki ketangguhan untuk melanjutkan misi besar membangun peradaban yang beradab. Rangkaian panjang yang terstruktur menjadi langkah panjang Nabi Ibrahim untuk mewujudkan hal itu :
1. Menjadikan Hajar sebagai istri. Wanita mulia karena keimanannya dan tangguh, yang secara nyata mampu menjadi partner perjuangan. Kehebatan Hajar yang sangat heroic menunjukkan kekuatan iman, melahirkan cinta dan kasih sayang kepada keluarga, kelapangan hati, dan kegigihan dalam perjuangan, hingga diabadikan dalam salah satu rukun ibadah haji.

2. Nabi Ibrahim pun selalu mendamba untuk dikaruniai Allah, anak yang sholeh. 
QS. Ashaffat (37) : 100, “Ya Tuhanku, anugerahkan kepadaku seorang anak yang termasuk orang sholeh”.
Maka setelah putranya lahir,  Nabi Ibrahim bersungguh-sungguh dalam mendidiknya hingga Ismail menjadi pemuda tangguh, sabar, dan taat kepada Allah swt. Hingga usia Ismail sudah dewasa dan telah menikah pun, Nabi Ibrahim tetap membimbing dan memantau putranya, sejauh mana ketaatan dan ketangguhannya dalam menjalankan tugas dakwah. Sibuknya beliau dalam dakwah dan jarak tempat tinggal yang jauh dari keluarga (1.239 km jarak Kan’an dengan Mekah) tidak menjadikan Nabi Ibrahim lengah terhadap keluarganya. Beliau menyadari betapa dakwah sangat membutuhkan generasi penerus yang mampu menjaga peradaban yang telah diperjuangkan. 

Dari keluarga Ibrahim inilah yang selanjutnya lahir para generasi yang siap melanjutkan estafet dakwah, secara berkesinambungan. Hingga Nabi Ibrahim mendapat sebutan Bapak Para Nabi. 

Saat ini banyak ayah yang sangat sibuk bekerja ataupun berdakwah sehingga tidak cukup lagi waktunya untuk sekedar duduk dan berbincang bersama istri dan anak. 
Atau banyak ayah yang menganggap bahwa pengasuhan anak merupakan tugas ibu semata. Akhirnya urusan pengasuhan anak tidak menjadi bagian dari agenda kesehariannya, tidak ada prioritas untuk membersamai tumbuh kembang anaknya. 
Jika pendapat tersebut benar, tentu mendidik anak tidak akan menjadi agenda penting bagi Nabi Ibrahim dan para nabi setelahnya.
Padahal Allah telah berfirman dalam QS At Tahrim (66) : 6, “Wahai orang-orang yang beriman. Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…”

Momen bersama keluarga seharusnya menjadi waktu yang sangat berharga dan dinantikan oleh seluruh anggota keluarga, walaupun waktu yang tersedia sangat terbatas. Disana seorang ibu dapat mencurahkan kasih sayang dan pelayanannya. Seorang ayah dengan sifat pengayoman dan kekuatan daya pikirnya dapat mengajak keluarga memperbincangkan berbagai hal tentang dinamika kehidupan. Maka secara bertahap anak akan menyerap berbagai nilai dan sikap yang tepat dalam menghadapi problematika kehidupan. Anak akan mengerti tentang pentingnya : ilmu, skill hidup, tanggung jawab.

Kehadiran sosok ayah dalam kehidupan anak memberi peran khusus yang secara alamiah sulit didapatkan dari sosok ibu. Sosok ayah berperan dalam terbentuknya karakter :
- Pengayoman
- Ketegasan
- Kedisiplinan
- Tanggung jawab
- Keberanian
- Ketajaman & kecakapan berpikir untuk mengambil keputusan dan solusi.

Kerasnya kehidupan yang dihadapi anak akan membutuhkan karakter-karakter tersebut, sehingga terbangun jiwa pemuda yang tangguh dan siap menghalau derasnya arus kebatilan.
Ketidakhadiran ayah dalam kehidupan anak menjadi ancaman serius munculnya generasi strawberi (tampak manis dan indah, namun lemah)  : rendahnya daya juang (generasi rebahan), pesimis, mudah patah arang, mudah tersinggung, tidak disiplin, kurang peduli terhadap lingkungan sekitar, tidak bertanggung jawab. 

Fenomena/maraknya berbagai bentuk penyimpangan di kalangan remaja juga menjadi bukti hilangnya sosok ayah yang peduli dalam pengasuhan, seperti : freeseks, perilaku adiksi, kriminalitas, dll. Bahkan berdasarkan kajian-kajian khusus tentang kasus-kasus LGBT, penyebab utamanya adalah hilangnya karakter ayah (yang disebutkan diatas) dalam kehidupan anak. 
Tentu kondisi generasi yang seperti ini akan menjadi obyek budaya kebatilan, bukan sebagai subyek kebaikan, dan menjadi beban bangsa. 

Padahal islam telah mengajarkan tentang urgensi pendidikan/tarbiyah, menghantarkan manusia untuk mengenal Allah, mengharap bimbingan Allah, dan menjalankan fungsi khalifah di muka bumi, yang tentunya hanya akan bisa diemban oleh umat yang tangguh dan bertaqwa. 

Maka sudah saatnya para ayah lebih peduli terhadap keluarga, mendidik keluarga, dan kelak bersama-sama memasuki surga tanpa ada satu pun anggota keluarga yang tertinggal. 

Wallahu’alam bishowab

Bandarlampung,14 Mei 2025
-- UAZ --

Postingan populer dari blog ini

Hakekat Kehidupan Manusia #Seri 1